Selasa, 12 Januari 2010

Asal-usul Nama Bulan dalam Penanggalan Masehi


Oleh. Rio E. Turipno, S.Psi

Setiap awal tahun kita akan menghadapi bulan Januari. Dalam mitologi Romawi Kuno, dikenal seorang dewa berwajah dua. Satu menghadap ke depan dan satunya ke belakang. Untuk menentukan mana yang depan atau belakang, ditandai dengan wajah yang menghadap depan selalu tersenyum dan optimis, sedangkan yang menghadap ke belakang selalu terlihat muram dan sedih. Dewa itu bernama Janus, yang bisa pula berarti pintu, gerbang, gapura atau lorong masuk.

Itulah mengapa bulan pertama setiap tahun dinamakan dengan bulan JANUARI, Januarius Mensis (Latin, bulan Januari) dan bulan ini bisa dikatakan berwajah dua. Wajah yang satu menghadap ke tahun sebelumnya dan lainnya ke tahun berjalan.

Dewa Janus dikatakan bermuka dua, namun bermuka dua dalam konteks waktu pun dapat kita jalankan. Setiap awal tahun kita biasanya memiliki resolusi tahun baru yang didapatkan dari dualisme masa yaitu masa lampau dan masa mendatang (dengan berpijak dari masa lampau, kita akan meraih masa depan) dan mengisi waktu diantaranya. Berjuang dalam masa kini.


Begitu pula dengan bulan-bulan lainnya dalam penanggalan Masehi yang tidak lepas dari mitologi Romawi Kuno, diantaranya:

FEBRUARI. Merupakan bulan kedua dalam tahun Masehi. Berasal dari nama dewa Februus, Dewa Penyucian.

MARET. Merupakan bulan ketiga dalam tahun Masehi. Berasal dari nama Dewa Mars, Dewa Perang. Pada mulanya, Maret merupakan bulan pertama dalam kalender Romawi, lalu pada tahun 45 SM Julius Caesar menambahkan bulan Januari dan Februari di depannya sehingga menjadi bulan ketiga.

APRIL. Merupakan bulan keempat dalam tahun Masehi. Berasal dari nama Dewi Aprilis, atau dalam bahasa Latin disebut juga Aperire yang berarti ”membuka”. Diduga kuat sebutan ini berkaitan dengan musim bunga dimana kelopak bunga mulai membuka. Juga diyakini sebagai nama lain dari Dewi Aphrodite atau Apru, Dewi Cinta orang Romawi.

MEI. Merupakan bulan kelima dalam kalender Masehi. Berasal dari nama Dewi Kesuburan Bangsa Romawi, Dewi Maia.

JUNI. Merupakan bulan keenam dari tahun Masehi. Berasal dari nama Dewi Juno.

JULI. Merupakan bulan ketujuh dari tahun Masehi. Di bulan ini Julius Caesar lahir, sebab itu dinamakan sebagai bulan Juli. Sebelumnya bulan Juli disebut sebagai Quintilis, yang berarti bulan kelima dalam bahasa Latin. Hal ini dikarenakan kalender Romawi pada awalnya menempatkan Maret sebagai bulan pertama.

AGUSTUS. Merupakan kedelapan dalam kalender Masehi. Seperti juga nama bulan Juli yang berasal dari nama Julius Caesar, maka bulan Agustus berasal dari nama kaisar Romawi, yaitu Agustus. Pada awalnya, ketika Maret masih menjadi bulan pertama, Maret menjadi bulan keenam dengan sebutan Sextilis.

SEPTEMBER. Merupakan bulan kesembilan dari tahun Masehi. Nama bulan ini berasal dari bahasa Latin Septem, yang berarti tujuh. September merupakan bulan ketujuh dalam kalender Romawi sampai dengan tahun 153 SM.

OKTOBER. Merupakan bulan kesepuluh dari tahun Masehi. Nama bulan ini berasal dari bahasa Latin Octo, yang berarti delapan. Oktober merupakan bulan kedelapan dalam kalender Romawi sampai dengan tahun 153 SM.

NOVEMBER. Merupakan bulan kesebelas dari tahun Masehi. Nama bulan ini berasal dari bahasa Latin Novem, yang berarti sembilan. November merupakan bulan kesembilan dalam kalender Romawi sampai dengan tahun 153 SM.

DESEMBER. Merupakan bulan keduabelas atau bulan terakhir dari tahun Masehi. Nama bulan ini berasal dari bahasa Latin Decem, yang berarti sepuluh. Desember merupakan bulan kesepuluh dalam kalender Romawi sampai dengan tahun 153 SM. Dibulan inilah diyakini lahirnya Dewa Matahari (25 Dec) yang kemudian diadopsi oleh Kristen menjadi perayaan gereja, yakni Natal Yesus Kristus

Berbeda dengan Penetapan kalender Hijriyah dilakukan pada jaman Umar bin Khatab, yg menetapkan peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW (ditemani Abu Bakar) dari Mekah ke Madinah. Kalender Hijriyah juga terdiri dari 12 bulan, dengan jumlah hari berkisar 29 - 30 hari. Penetapan 12 bulan ini sesuai dengan firman ALLAH SWT:

”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (At Taubah(9):36).

1. Muharram. Artinya, yg diharamkan atau menjadi pantangan. Di bulan Muharram, dilarang untuk berperang.
2. Shafar. Artinya, kosong. Di bulan ini, lelaki Arab pergi untuk merantau atau berperang.
3. Rabi’ul Awal, artinya masa kembalinya kaum lelaki yg merantau (shafar).
4. Rabi’ul Akhir, artinya akhir masa menetapnya kaum lelaki.
5. Jumadil Awal, artinya awal kekeringan. Maksudnya, mulai terjadi musim kering.
6. Jumadil Akhir, artinya akhir kekeringan. Dengan demikian, musim kering berakhir.
7. Rajab, artinya mulia. Jaman dulu, bangsa Arab sangat memuliakan bulan ini.
8. Sya’ban, artinya berkelompok. Biasanya bangsa Arab berkelompok mencari nafkah.
9. Ramadhan, artinya sangat panas. Bulan yg memanggang (membakar) dosa, karena di bulan ini kaum Mukmin diharuskan berpuasa/shaum sebulan penuh.
10. Syawwal, artinya kebahagiaan.
11. Zulqaidah, artinya waktu istirahat bagi kaum lelaki Arab.
12. Zulhijjah, artinya yg menuaikan haji.

Wallahu a'lam bish-shawwab

Asal-usul Nama Bulan dalam Penanggalan Masehi


Oleh. Rio E. Turipno, S.Psi

Setiap awal tahun kita akan menghadapi bulan Januari. Dalam mitologi Romawi Kuno, dikenal seorang dewa berwajah dua. Satu menghadap ke depan dan satunya ke belakang. Untuk menentukan mana yang depan atau belakang, ditandai dengan wajah yang menghadap depan selalu tersenyum dan optimis, sedangkan yang menghadap ke belakang selalu terlihat muram dan sedih. Dewa itu bernama Janus, yang bisa pula berarti pintu, gerbang, gapura atau lorong masuk.

Itulah mengapa bulan pertama setiap tahun dinamakan dengan bulan JANUARI, Januarius Mensis (Latin, bulan Januari) dan bulan ini bisa dikatakan berwajah dua. Wajah yang satu menghadap ke tahun sebelumnya dan lainnya ke tahun berjalan.

Dewa Janus dikatakan bermuka dua, namun bermuka dua dalam konteks waktu pun dapat kita jalankan. Setiap awal tahun kita biasanya memiliki resolusi tahun baru yang didapatkan dari dualisme masa yaitu masa lampau dan masa mendatang (dengan berpijak dari masa lampau, kita akan meraih masa depan) dan mengisi waktu diantaranya. Berjuang dalam masa kini.


Begitu pula dengan bulan-bulan lainnya dalam penanggalan Masehi yang tidak lepas dari mitologi Romawi Kuno, diantaranya:

FEBRUARI. Merupakan bulan kedua dalam tahun Masehi. Berasal dari nama dewa Februus, Dewa Penyucian.

MARET. Merupakan bulan ketiga dalam tahun Masehi. Berasal dari nama Dewa Mars, Dewa Perang. Pada mulanya, Maret merupakan bulan pertama dalam kalender Romawi, lalu pada tahun 45 SM Julius Caesar menambahkan bulan Januari dan Februari di depannya sehingga menjadi bulan ketiga.

APRIL. Merupakan bulan keempat dalam tahun Masehi. Berasal dari nama Dewi Aprilis, atau dalam bahasa Latin disebut juga Aperire yang berarti ”membuka”. Diduga kuat sebutan ini berkaitan dengan musim bunga dimana kelopak bunga mulai membuka. Juga diyakini sebagai nama lain dari Dewi Aphrodite atau Apru, Dewi Cinta orang Romawi.

MEI. Merupakan bulan kelima dalam kalender Masehi. Berasal dari nama Dewi Kesuburan Bangsa Romawi, Dewi Maia.

JUNI. Merupakan bulan keenam dari tahun Masehi. Berasal dari nama Dewi Juno.

JULI. Merupakan bulan ketujuh dari tahun Masehi. Di bulan ini Julius Caesar lahir, sebab itu dinamakan sebagai bulan Juli. Sebelumnya bulan Juli disebut sebagai Quintilis, yang berarti bulan kelima dalam bahasa Latin. Hal ini dikarenakan kalender Romawi pada awalnya menempatkan Maret sebagai bulan pertama.

AGUSTUS. Merupakan kedelapan dalam kalender Masehi. Seperti juga nama bulan Juli yang berasal dari nama Julius Caesar, maka bulan Agustus berasal dari nama kaisar Romawi, yaitu Agustus. Pada awalnya, ketika Maret masih menjadi bulan pertama, Maret menjadi bulan keenam dengan sebutan Sextilis.

SEPTEMBER. Merupakan bulan kesembilan dari tahun Masehi. Nama bulan ini berasal dari bahasa Latin Septem, yang berarti tujuh. September merupakan bulan ketujuh dalam kalender Romawi sampai dengan tahun 153 SM.

OKTOBER. Merupakan bulan kesepuluh dari tahun Masehi. Nama bulan ini berasal dari bahasa Latin Octo, yang berarti delapan. Oktober merupakan bulan kedelapan dalam kalender Romawi sampai dengan tahun 153 SM.

NOVEMBER. Merupakan bulan kesebelas dari tahun Masehi. Nama bulan ini berasal dari bahasa Latin Novem, yang berarti sembilan. November merupakan bulan kesembilan dalam kalender Romawi sampai dengan tahun 153 SM.

DESEMBER. Merupakan bulan keduabelas atau bulan terakhir dari tahun Masehi. Nama bulan ini berasal dari bahasa Latin Decem, yang berarti sepuluh. Desember merupakan bulan kesepuluh dalam kalender Romawi sampai dengan tahun 153 SM. Dibulan inilah diyakini lahirnya Dewa Matahari (25 Dec) yang kemudian diadopsi oleh Kristen menjadi perayaan gereja, yakni Natal Yesus Kristus

Berbeda dengan Penetapan kalender Hijriyah dilakukan pada jaman Umar bin Khatab, yg menetapkan peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW (ditemani Abu Bakar) dari Mekah ke Madinah. Kalender Hijriyah juga terdiri dari 12 bulan, dengan jumlah hari berkisar 29 - 30 hari. Penetapan 12 bulan ini sesuai dengan firman ALLAH SWT:

”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (At Taubah(9):36).

1. Muharram. Artinya, yg diharamkan atau menjadi pantangan. Di bulan Muharram, dilarang untuk berperang.
2. Shafar. Artinya, kosong. Di bulan ini, lelaki Arab pergi untuk merantau atau berperang.
3. Rabi’ul Awal, artinya masa kembalinya kaum lelaki yg merantau (shafar).
4. Rabi’ul Akhir, artinya akhir masa menetapnya kaum lelaki.
5. Jumadil Awal, artinya awal kekeringan. Maksudnya, mulai terjadi musim kering.
6. Jumadil Akhir, artinya akhir kekeringan. Dengan demikian, musim kering berakhir.
7. Rajab, artinya mulia. Jaman dulu, bangsa Arab sangat memuliakan bulan ini.
8. Sya’ban, artinya berkelompok. Biasanya bangsa Arab berkelompok mencari nafkah.
9. Ramadhan, artinya sangat panas. Bulan yg memanggang (membakar) dosa, karena di bulan ini kaum Mukmin diharuskan berpuasa/shaum sebulan penuh.
10. Syawwal, artinya kebahagiaan.
11. Zulqaidah, artinya waktu istirahat bagi kaum lelaki Arab.
12. Zulhijjah, artinya yg menuaikan haji.

Wallahu a'lam bish-shawwab

Kamis, 07 Januari 2010

(Mimpikah) IPM Masuk ke Sekolah Negeri?



Oleh. Abdul Rahman Syahputra Batubara


Sudah hampir setengah abad umur Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), sudah banyak juga prestasi yang sudah ditorehnya, dari lingkungan sekolah sampai kelas internasional. IPM telah melahirkan banyak tokoh lokal sampai nasional. Keluarga besar Muhammadiyah tak menyangkal bahwa IPM dan kadernya telah berbuat banyak untuk kaderisasi Muhammadiyah. Saat ini pimpinan teras Muhammadiyah, Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah dan Nasyiatul Aisyiah dan bahkan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dari lingkaran tingkat kecamatan sampai negara banyak diisi oleh kader Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Wajar saja kalau Muhammadiyah dan Aisyiyah menaruh perhatian khusus bagi IPM. Banyak yang menaruh harapan kepada IPM.

Sejak berdirinya tahun 1961 IPM bukan tak pernah keluar dari ”sangkarnya” sekolah milik Muhammadiyah. Banyak di beberapa lokasi termasuk Yogyakarta juga IPM pernah hadir dan mewarnai organisasi di sekolah negeri. Kader dari sekolah negeri juga tak bisa dipandang setengah mata. Saat ini saja di Pimpinan teras (tingkat kecamatan sampai nasional) gerakan IPM juga banyak diwarnai oleh kader-kader IPM dari sekolah negeri.


IPM bukanlah organisasi intra sekolah yang anggotanya hanya siswa sekolah tersebut. IPM bukanlah organisasi yang dikontrol oleh almuninya dari luar dan IPM bukanlah organsasi yang memperjuangkan agamanya secara simbolik (islam simbolik). Bukan membenarkan (penyataan banyak orang) kenapa IPM terkesan lambat bergerak. IPM ini besar (bahkan sangat besar), ada perwakilannya dari tingkat sekolah, kelurahan/ desa/ masjid/ musolla sampai nasional. IPM sudah memiliki manajeman dan ritme kerja sendiri, sudah melek data base organisasi dengan kartu anggotanya, sudah tahu akan pentingnya mendekati pers, sudah paham kalau kebijakan sekolahnya dipengaruhi dari kepala dinas yang dikuasai oleh menteri pendidikan nasional, dan sudah sangat paham kalau mereka adalah perpanjangan tangan dakwah Muhammadiyah di sekolah.

Melihat IPM tidak bisa dilihat dari satu sisi saja, IPM ada dimana-mana, tidak hanya ada di Medan, Yogyakarta, Jakarta dan Surabaya, IPM ada diseluruh Indonesia. Dan sangat wajar orang luar tidak tahu banyak apa yang dikerjakan IPM. Satu sisi kadang mangkel juga dengan masukan orang luar ini, apa mereka tidak bisa baca atau mencari berita IPM diseluruh Indonesia di google, banyak sekali blog-nya IPM dari sekolah sampai nasional.

Belum lagi ketika IPM dibandingkan dengan organisasi setingak sekolah misalkan kerohanianm islam (rohis). Wah, jauh sekali perbandingannya, kalau mau adil itu dengan organisasi yang setingkat nasional juga seperti PII, IPNU dan IPPNU. Sangat wajar jika rohis terkesan sangat kreatif, lha wong organisasinya cuma di internal sekolah, yang jumlahnya cuma maksimal 30 orang itupun yang aktif paling cuma 10 orang yang dikontrol oleh alumninya dari luar sekolah. Kegiatannya gampang ditebak, biasanya bersifat hampir sama dengan PHBI (Peringatan Hari Besar Islam) dan beberapa kajian keislaman tentang anti- pacaran, nikah dini, ibadah mahdoh, ukhuwah islamiyah yang patokannya adalah Palestina dan sedikit aksi jalanan kalau ada isu menganai islam. IPM sudah berada diatas kegiatan rohis. IPM sudah melaksanakan bagaimana membela teman sebaya, bagaimana agar pelajar putri tidak dilecehkan, bagaimana agar Islam hadir sebagai rahmat untuk semua, bagaimana intelektual dan budaya membaca diterapkan dari sekolah sampai nasional, bagaimana agar peduli terhadap ketidakadilan di sekolah dan lingkungannya, bagaimana melakukan pendidikan politik bagi pemilih pemula, bagaimana menyikapi isu lokal dan nasional secara proporsional dan bagaimana memanfaatkan moment waktu liburan sabtu minggu dan liburan panjang untuk konsolidasi internal dan kaderisasi dari lingkungan sekolah sampai nasional serta belajar bertanggungjawab terhadap amanah yang sedang diembannya dengan membuat laporan akhir setiap masa akhir periode dan masih banyak lagi sesuai dengan tingkatannya masing-masing sekolah sampai nasional.

IPM (akan) Masuk Sekolah Negeri


Secara resmi sudah pasti IPM sangat sulit masuk ke sekolah negeri karena IPM membawa nama Muhammadiyah yang di dalam sebuah lingkungan sekolah dihuni oleh kelompok Islam yang berasal dari banyak ormas Islam seperti Al-Wasliyah, NU, Tarbiyah, HTI dan orang islam lain yang tidak suka dengan kelompok ormas manapun. Tapi, itu semua adalah tantang tersendiri bagi IPM. Pengalaman saya dan kawan-kawan saat akan memasukkan IPM ke sekolah kami (SMA Negeri 1 Lubukpakam) banyak mengalamai resistensi dari guru sampai kepala sekolah. Bahkan hanya sekedar simbol IPM dalam bentuk pin yang kami pasang di baju kami harus di copot atau disembunyikan jika berapapasan dengan guru dan kepala sekolah yang tidak setuju dengan adanya IPM di sekolah itu. Dan saya yakin pasti pengalaman pembaca lainnya juga beragam.

Tetapi itu semua bisa kita jadikan sebagai motivasi awal, toh kita masih bisa beraktivitas pasca sekolah pulang. Bagaimana memulainya? kita bisa membuat ranting sekolah dengan modal awal 6-10 orang saja di sekolah negeri tersebut. Kemudian kita mendekatkan dan mendaftar diri kita ke Pimpinan diatas kita untuk dibina seperti Pimpinan Cabang dan Daerah setempat. Setelah komunikasi berjalan baik dan kita ikut diundang dan dilibatkan oleh PC dan PD IPM setempat kita mulai memperkenal IPM melalui kegiatan-kegiatan di sekolah, bisa melalaui buletin, majalah dinding, diskusi pelajaran sampai tentang masalah pelajar dan islam.

IPM Cabang dan Daerah juga bisa ikut berkontribusi dengan mengadakan lomba yang sederhana misalkan lomba membuat majalah dinding, futsal, catur dan lainnya yang tidak perlu mengeluarkan biaya besar tapi efeknya luar biasa. Lomba ini melibatkan juga sekolah-sekolah negeri dengan mengundang mereka secara resmi melalui kepala sekolah tapi jangan lupa meminta rekomendasi kepala dinas pendidikan setempat sebagai legitimasi kegiatan IPM yang didukung juga oleh atasannya kepala sekolah yaitu kepala dinas pendidikan. Saat bulan Ramadhan misalnya IPM Cabang dan Daerah menawarkan diri sebagai event organizer di sekolah negeri (jangan lupa disposisi kepala dinas pendidikan untuk mendukung kegiatan kita) tentunya dengan materi yang umum. Dan masih banyak jenis kegiatan lainnya yang bisa kita laksankan untuk masuk ke sekolah negeri. Memang prosesnya tak semudah membalikkan telapak tangan, tapi insya allah 1-2 tahun kemudian jika komunikasi kita lancar dengan stake holder di sekolah tersebut IPM akan diterima di sekolah negeri. Atau bahkan bisa lebih cepat dari itu.......

Selamat Mencoba Kawan...

Sumber: http://ipm.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=119:mimpikah-ipm-masuk-ke-sekolah-negeri&catid=29:artikel&Itemid=58

(Mimpikah) IPM Masuk ke Sekolah Negeri?



Oleh. Abdul Rahman Syahputra Batubara


Sudah hampir setengah abad umur Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), sudah banyak juga prestasi yang sudah ditorehnya, dari lingkungan sekolah sampai kelas internasional. IPM telah melahirkan banyak tokoh lokal sampai nasional. Keluarga besar Muhammadiyah tak menyangkal bahwa IPM dan kadernya telah berbuat banyak untuk kaderisasi Muhammadiyah. Saat ini pimpinan teras Muhammadiyah, Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah dan Nasyiatul Aisyiah dan bahkan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dari lingkaran tingkat kecamatan sampai negara banyak diisi oleh kader Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Wajar saja kalau Muhammadiyah dan Aisyiyah menaruh perhatian khusus bagi IPM. Banyak yang menaruh harapan kepada IPM.

Sejak berdirinya tahun 1961 IPM bukan tak pernah keluar dari ”sangkarnya” sekolah milik Muhammadiyah. Banyak di beberapa lokasi termasuk Yogyakarta juga IPM pernah hadir dan mewarnai organisasi di sekolah negeri. Kader dari sekolah negeri juga tak bisa dipandang setengah mata. Saat ini saja di Pimpinan teras (tingkat kecamatan sampai nasional) gerakan IPM juga banyak diwarnai oleh kader-kader IPM dari sekolah negeri.


IPM bukanlah organisasi intra sekolah yang anggotanya hanya siswa sekolah tersebut. IPM bukanlah organisasi yang dikontrol oleh almuninya dari luar dan IPM bukanlah organsasi yang memperjuangkan agamanya secara simbolik (islam simbolik). Bukan membenarkan (penyataan banyak orang) kenapa IPM terkesan lambat bergerak. IPM ini besar (bahkan sangat besar), ada perwakilannya dari tingkat sekolah, kelurahan/ desa/ masjid/ musolla sampai nasional. IPM sudah memiliki manajeman dan ritme kerja sendiri, sudah melek data base organisasi dengan kartu anggotanya, sudah tahu akan pentingnya mendekati pers, sudah paham kalau kebijakan sekolahnya dipengaruhi dari kepala dinas yang dikuasai oleh menteri pendidikan nasional, dan sudah sangat paham kalau mereka adalah perpanjangan tangan dakwah Muhammadiyah di sekolah.

Melihat IPM tidak bisa dilihat dari satu sisi saja, IPM ada dimana-mana, tidak hanya ada di Medan, Yogyakarta, Jakarta dan Surabaya, IPM ada diseluruh Indonesia. Dan sangat wajar orang luar tidak tahu banyak apa yang dikerjakan IPM. Satu sisi kadang mangkel juga dengan masukan orang luar ini, apa mereka tidak bisa baca atau mencari berita IPM diseluruh Indonesia di google, banyak sekali blog-nya IPM dari sekolah sampai nasional.

Belum lagi ketika IPM dibandingkan dengan organisasi setingak sekolah misalkan kerohanianm islam (rohis). Wah, jauh sekali perbandingannya, kalau mau adil itu dengan organisasi yang setingkat nasional juga seperti PII, IPNU dan IPPNU. Sangat wajar jika rohis terkesan sangat kreatif, lha wong organisasinya cuma di internal sekolah, yang jumlahnya cuma maksimal 30 orang itupun yang aktif paling cuma 10 orang yang dikontrol oleh alumninya dari luar sekolah. Kegiatannya gampang ditebak, biasanya bersifat hampir sama dengan PHBI (Peringatan Hari Besar Islam) dan beberapa kajian keislaman tentang anti- pacaran, nikah dini, ibadah mahdoh, ukhuwah islamiyah yang patokannya adalah Palestina dan sedikit aksi jalanan kalau ada isu menganai islam. IPM sudah berada diatas kegiatan rohis. IPM sudah melaksanakan bagaimana membela teman sebaya, bagaimana agar pelajar putri tidak dilecehkan, bagaimana agar Islam hadir sebagai rahmat untuk semua, bagaimana intelektual dan budaya membaca diterapkan dari sekolah sampai nasional, bagaimana agar peduli terhadap ketidakadilan di sekolah dan lingkungannya, bagaimana melakukan pendidikan politik bagi pemilih pemula, bagaimana menyikapi isu lokal dan nasional secara proporsional dan bagaimana memanfaatkan moment waktu liburan sabtu minggu dan liburan panjang untuk konsolidasi internal dan kaderisasi dari lingkungan sekolah sampai nasional serta belajar bertanggungjawab terhadap amanah yang sedang diembannya dengan membuat laporan akhir setiap masa akhir periode dan masih banyak lagi sesuai dengan tingkatannya masing-masing sekolah sampai nasional.

IPM (akan) Masuk Sekolah Negeri


Secara resmi sudah pasti IPM sangat sulit masuk ke sekolah negeri karena IPM membawa nama Muhammadiyah yang di dalam sebuah lingkungan sekolah dihuni oleh kelompok Islam yang berasal dari banyak ormas Islam seperti Al-Wasliyah, NU, Tarbiyah, HTI dan orang islam lain yang tidak suka dengan kelompok ormas manapun. Tapi, itu semua adalah tantang tersendiri bagi IPM. Pengalaman saya dan kawan-kawan saat akan memasukkan IPM ke sekolah kami (SMA Negeri 1 Lubukpakam) banyak mengalamai resistensi dari guru sampai kepala sekolah. Bahkan hanya sekedar simbol IPM dalam bentuk pin yang kami pasang di baju kami harus di copot atau disembunyikan jika berapapasan dengan guru dan kepala sekolah yang tidak setuju dengan adanya IPM di sekolah itu. Dan saya yakin pasti pengalaman pembaca lainnya juga beragam.

Tetapi itu semua bisa kita jadikan sebagai motivasi awal, toh kita masih bisa beraktivitas pasca sekolah pulang. Bagaimana memulainya? kita bisa membuat ranting sekolah dengan modal awal 6-10 orang saja di sekolah negeri tersebut. Kemudian kita mendekatkan dan mendaftar diri kita ke Pimpinan diatas kita untuk dibina seperti Pimpinan Cabang dan Daerah setempat. Setelah komunikasi berjalan baik dan kita ikut diundang dan dilibatkan oleh PC dan PD IPM setempat kita mulai memperkenal IPM melalui kegiatan-kegiatan di sekolah, bisa melalaui buletin, majalah dinding, diskusi pelajaran sampai tentang masalah pelajar dan islam.

IPM Cabang dan Daerah juga bisa ikut berkontribusi dengan mengadakan lomba yang sederhana misalkan lomba membuat majalah dinding, futsal, catur dan lainnya yang tidak perlu mengeluarkan biaya besar tapi efeknya luar biasa. Lomba ini melibatkan juga sekolah-sekolah negeri dengan mengundang mereka secara resmi melalui kepala sekolah tapi jangan lupa meminta rekomendasi kepala dinas pendidikan setempat sebagai legitimasi kegiatan IPM yang didukung juga oleh atasannya kepala sekolah yaitu kepala dinas pendidikan. Saat bulan Ramadhan misalnya IPM Cabang dan Daerah menawarkan diri sebagai event organizer di sekolah negeri (jangan lupa disposisi kepala dinas pendidikan untuk mendukung kegiatan kita) tentunya dengan materi yang umum. Dan masih banyak jenis kegiatan lainnya yang bisa kita laksankan untuk masuk ke sekolah negeri. Memang prosesnya tak semudah membalikkan telapak tangan, tapi insya allah 1-2 tahun kemudian jika komunikasi kita lancar dengan stake holder di sekolah tersebut IPM akan diterima di sekolah negeri. Atau bahkan bisa lebih cepat dari itu.......

Selamat Mencoba Kawan...

Sumber: http://ipm.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=119:mimpikah-ipm-masuk-ke-sekolah-negeri&catid=29:artikel&Itemid=58

Senin, 04 Januari 2010

Apa Salahnya Menangis?


Apa salahnya menangis, jika memang dengan menangis itu manusia menjadi sadar. Sadar akan kelemahan-kelemahan dirinya, saat tiada lagi yang sanggup menolongnya dari keterpurukan selain Allah Swt. Bukankah kondisi hati manusia tiada pernah stabil? Selalu berbolak balik menuruti keadaan yang dihadapinya.

Sebagian orang menganggap menangis itu adalah hal yang hina dan merupakan tanda lemahnya seseorang. Bangsa Yahudi selalu mengecam cengeng ketika anaknya menangis dan dikatakan tidak akan mampu melawan musuh-musuhnya. Para orang tua di Jepang akan memarahi anaknya jika mereka menangis karena dianggap tidak tegar menghadapi hidup. Menangis adalah hal yang hanya dilakukan oleh mereka yang tidak mempunyai prinsip hidup.


Bagi seorang muslim yang mukmin, menangis merupakan buah kelembutan hati dan pertanda kepekaan jiwanya terhadap berbagai peristiwa yang menimpa dirinya maupun umatnya. Rasulullah Saw meneteskan air matanya ketika ditinggal mati oleh anaknya, Ibrahim. Abu Bakar Ashshiddiq ra digelari oleh anaknya Aisyah ra sebagai Rojulun Bakiy (Orang yang selalu menangis). Beliau senantiasa menangis, dadanya bergolak manakala sholat dibelakang Rasulullah Saw karena mendengar ayat-ayat Allah. Abdullah bin Umar suatu ketika melewati sebuah rumah yang di dalamnya ada sesorang sedang membaca Al Qur'an, ketika sampai pada ayat: "Hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam" (QS. Al Muthaffifin: 6). Pada saat itu juga beliau diam berdiri tegak dan merasakan betapa dirinya seakan-akan sedang menghadap Robbnya, kemudian beliau menangis. Lihatlah betapa Rasulullah Saw dan para sahabatnya benar-benar memahami dan merasakan getaran-getaran keimanan dalam jiwa mereka.

Bukankah diantara tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan pada hari dimana tiada naungan kecuali naungan Allah adalah orang yang berdoa kepada Robbnya dalam kesendirian kemudian dia meneteskan air mata? Tentunya begitu sulit meneteskan air mata saat berdo'a sendirian jika hati seseorang tidak lembut. Yang biasa dilakukan manusia dalam kesendiriannya justru maksiat.

Orang yang keras hatinya, akan sulit menangis saat dibacakan ayat-ayat Allah. Barangkali di antara kita yang belum pernah menangis, maka menangislah disaat membaca Al Qur'an, menangislah ketika berdo'a di sepertiga malam terakhir, menangislah karena melihat kondisi umat yang terpuruk, atau tangisilah dirimu karena tidak bisa menangis ketika mendengar ayat-ayat Allah. Semoga hal demikian dapat melembutkan hati dan menjadi penyejuk serta penyubur iman dalam dada.

Apa Salahnya Menangis?


Apa salahnya menangis, jika memang dengan menangis itu manusia menjadi sadar. Sadar akan kelemahan-kelemahan dirinya, saat tiada lagi yang sanggup menolongnya dari keterpurukan selain Allah Swt. Bukankah kondisi hati manusia tiada pernah stabil? Selalu berbolak balik menuruti keadaan yang dihadapinya.

Sebagian orang menganggap menangis itu adalah hal yang hina dan merupakan tanda lemahnya seseorang. Bangsa Yahudi selalu mengecam cengeng ketika anaknya menangis dan dikatakan tidak akan mampu melawan musuh-musuhnya. Para orang tua di Jepang akan memarahi anaknya jika mereka menangis karena dianggap tidak tegar menghadapi hidup. Menangis adalah hal yang hanya dilakukan oleh mereka yang tidak mempunyai prinsip hidup.


Bagi seorang muslim yang mukmin, menangis merupakan buah kelembutan hati dan pertanda kepekaan jiwanya terhadap berbagai peristiwa yang menimpa dirinya maupun umatnya. Rasulullah Saw meneteskan air matanya ketika ditinggal mati oleh anaknya, Ibrahim. Abu Bakar Ashshiddiq ra digelari oleh anaknya Aisyah ra sebagai Rojulun Bakiy (Orang yang selalu menangis). Beliau senantiasa menangis, dadanya bergolak manakala sholat dibelakang Rasulullah Saw karena mendengar ayat-ayat Allah. Abdullah bin Umar suatu ketika melewati sebuah rumah yang di dalamnya ada sesorang sedang membaca Al Qur'an, ketika sampai pada ayat: "Hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam" (QS. Al Muthaffifin: 6). Pada saat itu juga beliau diam berdiri tegak dan merasakan betapa dirinya seakan-akan sedang menghadap Robbnya, kemudian beliau menangis. Lihatlah betapa Rasulullah Saw dan para sahabatnya benar-benar memahami dan merasakan getaran-getaran keimanan dalam jiwa mereka.

Bukankah diantara tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan pada hari dimana tiada naungan kecuali naungan Allah adalah orang yang berdoa kepada Robbnya dalam kesendirian kemudian dia meneteskan air mata? Tentunya begitu sulit meneteskan air mata saat berdo'a sendirian jika hati seseorang tidak lembut. Yang biasa dilakukan manusia dalam kesendiriannya justru maksiat.

Orang yang keras hatinya, akan sulit menangis saat dibacakan ayat-ayat Allah. Barangkali di antara kita yang belum pernah menangis, maka menangislah disaat membaca Al Qur'an, menangislah ketika berdo'a di sepertiga malam terakhir, menangislah karena melihat kondisi umat yang terpuruk, atau tangisilah dirimu karena tidak bisa menangis ketika mendengar ayat-ayat Allah. Semoga hal demikian dapat melembutkan hati dan menjadi penyejuk serta penyubur iman dalam dada.

Sabtu, 26 Desember 2009

Kekerasan Pelajar di Sekolah Salah Siapa?

Oleh Putra Batubara *)

Akhir-akhir ini kita disuguhkan tontonan menarik tentang pelajar di sekolah yang melakukan tindak kekerasan baik putra ataupun putri. Kemajuan teknologi menjadikan kasus perkasus bisa langsung di akses oleh media nasional seperti televisi dan adegan tersebut ditayangkan secara langsung. Yang menartik disini adalah kasus kekerasan ini biasa terungkap setelah tersiar kabar di media massa dan pihak sekolah baru “mengambil sikap” setelah kasus itu disiarkan oleh media massa.

Pertanyaanya kemudian, kemana fungsi dan tugas sekolah yang mendidik peserta didiknya itu? Kenapa hal-hal yang sebesar ini bisa tidak diketahui oleh pihak sekolah? Atau jangan – jangan pihak sekolah juga sudah tahu dan berusah untuk menutup-nutupinya. Terus kalau sudah seperti ini siapa yang harus disalahkan? guru, kepala sekolah, kepala dinas pendidikan, guru agama, wali siswanya atau mungkin OSIS dan Rohisnya (karena kejadian ini banyak terjadi di sekolah negeri). Biasanya perdebatan akan terjadi disekitar nama-nama diatas dan mereka akan saling menyalahkan.


Idealnya pendidikan itu dilaksanakan bukan karena paksaan, harus tulus dan ikhlas dari kemauan peserta didik tersebut. Beberapa contoh kekerasan yang ada di sekolah keinginan orang tua siswa agar anaknya sekolah di sekolah A karena terkesan elit dan favorit padahal anaknya tidak mau dan tidak berminat, atau guru dan kepala sekolah yang mengeluarkan kebijakan membuat pelajaran tambahan di sekolah plus kegiatan ekstrakulikuler yang bersifat wajib agar siswa di sekolahnya bisa lulus dengan predikat terbaik, menteri pendidikan nasional juga sama yaitu membuat kebijakan ujian secara nasional dan kelulusan di Ujian Nasional adalah harga mati tanpa melihat kearifan lokal yang ada, dan masih banyak lagi contoh kekerasan yang terjadi di sekolah (kekersan melalui kebijakan dan kekerasan pemaksaan suatu kehendak).

Menurut saya kekerasan yang terjadi sesama siswa di sekolah adalah akibat dari ”fenomena gunung es” atau puncak permsalahan kekerasan kebijakan di sekolah yang semuanya bermuara ke siswa. Jadi, sebenarnya mereka semua adalah korban bukan pelaku kekerasan.


Bagaimana Mental Kekerasan di Sekolah di Mulai?

1. Sebelum masuk sekolah biasanya siswa sudah ditanamkan seabrek peraturan sekolah yang harus ditaatinya, tidak boleh bertanya kenapa peraturan ini dibuat, siapa yang buat dan untuk siapa aja peraturan ini dibuat, siswa hanya boleh membaca peraturan dan menjalankannya misal peraturan yang mewajibkan siswa memakai dasi, dan topi lengkap saat upacara bendera hari senin, atau rambut siswa putra yang panjangnya tidak boleh lebih dari 10 cm, tidak boleh terlambat (apalagi bayar uang SPP dan buku, ini lebih lagi sangat tidak boleh terlambat)


2. Pertama sekali masuk ke sekolah, kakak-kakak yang ada di OSIS mengadakan kegiatan dengan nama masa orientasi siswa atau biasa disebut MOS. Disini kekerasan kedua terjadi, secara fisik dan verbal, anak baru tadi disuruh sesuatu yang tidak jelas maksud dan tujuannya, kadang disuruh melakukan hal-hal yang tidak lumrah, di sini mulai tertanam lagi di alam bawah sadar siswa baru tersebut bahwa hal ini sudah biasa karena selain dibiarkan oleh sekolah kegiatan ini terjadi secara turun temurun.

3. Kemudian setelah MOS selesai siswa masuk ke sekolah dan menjadi warga sekolah, saat terlambat masuk di sekolah dia harus melewati banyak pos dari mulai satpam sampai guru BK, di sini peraturan sekolah kembali dibacaan kepadanya sementara pihak-pihak yang mendakwa siswa tersebut tidak mau tau apa yang terjadi sehingga siswa itu terlambat. Di sini dia belajar bahwa alasan apapun tidak akan diterima, padahal pada minggu berikutnya giliran guru yang datang terlambat, dan guru tersebut diperbolehkan masuk ke kelas tanpa melewati pos-pos yang ada.

4. Kemudian dia masuk ke kelas, di kelas dia mendengarkan secara baik apa saja yang menjadi peraturan di internal kelas, dari mulai kebersihan yang sampai harus mengeluarkan uang sakunya karena kelasnya harus indah dengan tambahan gorden dan beberapa perangkat kelas seperti sapu, tong sampah, penghapus, taplak meja dan kalau perlu ditambah sedikit bunga pot di dalam ruangan. Di sini dia belajar malu kalau tidak ikut patungan dengan siswa sekelasnya, mungkin saja sisa uangnya saat itu tinggal untuk ongkos pulang.

5. Tiga hari kemudian saat dikelasnya sedang belajar asyik dengan seorang guru, datanglah seorang guru perempuan yang sangat ramah, dia membawa banyak buku yang di ikat dengan tali rapia, bersamanya ada bapak-bapak yang berpakaian rapi sedang memegang buku tulis tebal, sepertinya masih baru buku itu karena covernya yang masih mengkilap. Ibu guru yang ternyata adalah petugas koperasi itu mengatakan bahwa untuk menunjang pembelajaran siswa dibantu dengan buku pelajaran dengan merk tertentu dan harganya sangat miring plus dengan cicilan yang sangat gampang (bisa dicicill selama 1 tahun sampai sebelum kenaikan kelas). Kemudian dia bertanya bisa tidak bu kalau belinya diluar atau memakai buku kakak kelas? Sang guru dengan pedenya menjawab silahkan saja karena buku ini baru saja terbit dan belum ada di pasaran edisinya sangat terbatas, kemudian guru yang mengajar dikelas tadi menimpali bahwa minggu depan ada PR di halaman sekian dibuku baru yang kalain terima. Terpojokkanlah si siswa tadi karena mau tidak mau harus membeli buku itu karena memang sangat perlu. Disini kekerasan kehendak, padahal siswa baru itu tahu kalau bapak ibunya tidak akan mampu membayar uang buku tersebut secara tunai, disini dia mulai setres padahal dia baru masuk ke sekolah itu dan baru mulai belajar selama 3 hari. Sekumpulan tanda tanya sudah banyak di kepalanya.

6. Masih banyak lagi kekerasan yang di lakukan senior seperti dalam ektrakulikuler tertentu yang punya adat terntu juga dan biasanya mereka menggunakan kekerasan fisik dan mental, alasanya sih agar mental anak baru tersebut kuat, aneh juga ya, seperti militer gitu deh.


7. Masih banyak kekerasan lainnya di kelas seperti guru yang mengatakan bahwa dirinya bodoh lah karena pelajaran yang di terangkannya tidak dapat langsung diserap dan masih banyak conoth lagi.


8. Akhirnya untuk menumpahkan segala kekesalannya dia membuat komunitas anak-anak setres yang semua kegiatannya untuk menghilangkan setres (tentunya menurut mereka sendiri) sampai akhirnya kekerasan antar kelompok di internal sekolah sampai dengan kekerasan antar sekolah dengan tawuran.

Solusinya?


Kekerasan tidak cocok di balas dengan kekerasan pula (malah akan memperparah), disinilah IPM berperan untuk melakukan penyadaran kepada siswa tersebut untuk kritis melihat ketidakadilan yang ada disekitarnya (melihat ketidakberesan disekitarnya) setelah disadarkan kemudian mereka dijadikan ”relawan” untuk membela teman sebayanya. Sampai akhirnya semua temannya sadar dan seluruh warga sekolah sadar dengan semua kelakuan mereka yang tidak adil dan suka melakukan kekerasan baik secara langsung maupun tidak langsung.

IPM sudah saatnya masuk ke sekolah negeri.......


*) Mantan kandidat ketua OSIS yang mengundurkan diri karena lebih memilih menjadi Ketua Rohis (Badan Tadzkir)  Ibnu Sina SMA Negeri 1 Lubukpakam Deli Serdang, Sumatera Utara. Saat ini menjabat sebagai Ketua Bidang Kajian dan Dakwah Islam (KDI) PP. Ikatan Pelajar Muhammadiyah.


Sumber: http://putralubukpakam.blogspot.com/2009/03/kekerasan-pelajar-di-sekolah-salah.html