Tampilkan postingan dengan label Mualaf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mualaf. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Desember 2009

Hidayah di waktu Fajar


Suara azan Subuh menyayat-nyayat hati Yudi Mulyana, pendeta yang juga staf pengajar agama Kristen di sebuah sekolah dasar di Cirebon, pagi itu. Jantungnya berdegup kencang. Ia limbung dan roboh. "Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya pagi itu," ujarnya sambil menceritakan kejadian di pengujung Agustus 2008. Padahal, ia memang terbiasa bangun pagi, berbarengan Subuh. Melakukan doa pagi dan membaca Alkitab adalah aktivitas rutinnya membuka hari.Namun pagi itu, ia seolah lumpuh. Meski panik, ia mencoba tenang. Yudi membuat banyak asumsi untuk menghibur diri. Namun, tak satu pun mampu menolongnya.

Hatinya menjadi tenang setelah membuka saluran televisi menyaksikan acara zikir yang dipimpin oleh Ustaz Arifin Ilham. Ia berkomat-kamit mengikuti zikir yang dibacakan jamaah Arifin di layar televisi. "Tuhan, apa yang terjadi dengan diri saya", tuturnya. Kalimat Thayyibah menenteramkannya hingga ia bisa bangkit dan kembali berjalan.


Yudi mencari permakluman bahwa fisiknya terlalu capek. Kuliah S-2 Teologi di sebuah perguruan tinggi di Bandung, sementara dia tinggal di Cirebon, menyita perhatian dan energinya. "Besok juga sembuh," pikirnya kala itu.

Namun, kendati fisiknya sudah segar, ia kembali mengalami peristiwa yang sama keesokan harinya. Bahkan, setiap kali mendengar suara azan, tubuhnya bergetar. Di waktu lain, hatinya gelisah setiap kali menyentuh Alkitab.Pada pekan yang sama, ia menemui Ustaz Nudzom, putra ketua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Cirebon. Ia menceritakan pengalamannya. Komentar Nudzom saat itu, "Anda mendapat hidayah". Mendengar jawaban itu, hati Yudi berontak. "Tuhan, saya tak ingin menjadi Muslim," ujarnya.

Bersyahadat

Pengalaman di ujung fajar itu selalu menghantui pikiran Yudi. Ia makin merasa tak nyaman berada di gereja. Anehnya, hatinya menjadi adem saat melintas di depan masjid atau secara diam-diam masuk ke area masjid.Puncaknya, tanggal 7 Agustus 2008 saat sedang mengajar, ia mendengar suara azan seolah berkumandang di telinganya. "Timbul keinginan yang kuat dari dalam diri saya untuk membaca syahadat", ujarnya.

Ia segera menemui Dra Hj Sri Hayatun, kepala sekolah tempatnya mengajar. Sri keheranan dengan sikap Yudi. Di Cirebon, ia dikenal sebagai guru dan pendeta militan. Sepak terjangnya selama ini membuat ratusan Muslim sukses dimurtadkan (keluar dari Islam).Dia kemudian diantar ke Kantor Departemen Agama Kota Cirebon. Bahkan, salah seorang pejabat di kantor itu menyarankannya untuk pulang dan berpikir sungguh-sungguh. "Berpindah keyakinan bukan perkara main-main", kata pejabat Depag tersebut sebagaimana ditirukan Yudi.

Namun, tekadnya sudah bulat. Bahkan, telepon mamanya yang meminta Yudi untuk mengurungkan niatnya, diabaikannya. "Meski saya menjadi Muslim, saya tetap akan menjadi anak mama", jelasnya kepada perempuan yang melahirkannya di ujung telepon.
Maka siang itu, dibimbing oleh KH Mahfud, ia bersyahadat. Dan, berita pendeta menjadi Muslim segera tersebar ke seantero kota. Saat pulang, ia menjumpai rumahnya sudah kosong. Istrinya yang mendengar kabar itu segera mengungsikan diri dan anak-anaknya ke Indramayu. Surat cerai dilayangkan dua bulan kemudian.

Lima hal 


"Saya melakukan pencarian teologis setelah saya bersyahadat", kata Yudi. Ia memulai dengan pertanyaan, Apakah ajaran semua agama sama? Kalau sama, harus jelas di mana persamaannya dan pasti. Kalau ada yang berbeda, juga harus jelas perbedaannya.
Dari hasil penelusurannya, sedikitnya Yudi menemukan ada lima persamaan ajaran agama-agama besar, yaitu harus menyembah Tuhan; mengenal konsep dosa; hidup adalah mencari jalan ke surga; harus berbuat baik; dan ada kehidupan setelah kematian. Setelah diteliti lagi, kata dia, ternyata hanya temanya saja yang sama, tetapi ajaran dan konsepnya berbeda.

"Saya mulai bertanya, jadi Tuhan itu satu atau banyak?" ujarnya. Maka, ia mempersempit persoalan, hanya tentang konsep keesaan Tuhan dan soal pengampunan dosa. Ajaran Islam dan Kristen tentang kedua hal itu pun dipersandingkan.Dalam Kristen, Adam dan Hawa yang terusir dari surga meninggalkan dosa warisan bagi anak cucunya. "Berarti proses pengampunan Tuhan tidak tuntas", ujarnya. Padahal, Tuhan tentulah bukan pendendam seperti sifat makhluk-Nya.

Dalam Islam, ia menemukan hal yang beda. Manusia terlahir dalam kondisi fitrah. Dia menjadi khalifah Tuhan di muka bumi dan menjadi rahmat bagi seluruh alam.Ia juga dibuat terkagum-kagum dengan asmaul husna . "Tuhan itu satu, tapi Dia mempunyai 99 nama yang melambangkan sifat-Nya", ujarnya.'Perilaku Tuhan' dalam Islam, kata dia, melambangkan nama-nama itu. "Kenapa Allah menghukum, karena dia mempunyai sifat Adil. Namun, Dia juga pemaaf Ghafurjuga rahman dan rahim", tambahnya.Ia makin yakin dengan pilihannya. "Hanya Islam yang konsep ketuhanannya bisa dipahami secara rasional", ujarnya.


Giat berdakwah

Kini, hari-hari Yudi Mulyana diwarnai dengan berbagai kesibukan dakwah. Dia memberi testimoni dalam dakwahnya ke berbagai kota di Indonesia. Saat Republika menemuinya di Jakarta, Yudi baru beberapa hari pulang umrah. Sebelumnya, ia selama seminggu berada di Provinsi Riau."Saya ingin menebus dosa-dosa saya telah memurtadkan sekian banyak orang dengan menjadi pendakwah". ujarnya. Ia menyebarkan pesan-pesan Islam kepada siapa saja yang ditemuinya. "Saya selalu bilang, Anda semua beruntung menjadi Muslim sejak awal. Islam itu agama agung yang ajarannya sangat masuk akal". Dia mencontohkan dirinya, yang harus kehilangan keluarga karena pilihannya menjadi Muslim. Bukan perkara mudah, karena selama lebih dari 10 tahun perkawinannya, tak pernah ada gejolak dalam rumah tangganya. "Kami keluarga yang hangat", ujarnya.

Yudi selalu berkaca-kaca kalau menceritakan anak-anaknya. Dia dan anak-anaknya kini dipisahkan. Meski kini dia telah memiliki keluarga baru. Ia menikah dengan seorang Muslimah asal Cirebon. Kerinduan pada buah hatinya tak pernah pupus. Ada satu mimpinya, Yudi ingin menjadi imam shalat bagi ketiga buah hatinya. ''Saya ingin sekali ketemu mereka dalam Islam", ujarnya terbata-bata.


Mengkristenkan Orang dalam 1,5 Jam

Yudi Mulyana termenung sejenak ketika ditanya orang Islam yang berhasil dimurtadkannya. "Sudah tak terhitung jumlahnya", jelasnya. Apalagi, mereka yang berhasil dimurtadkan itu biasanya juga aktif melakukan pemurtadan terhadap orang-orang yang ada di sekitarnya. Sebelum menempuh pendidikan S-2, aku Yudi, metode yang dikembangkan untuk memurtadkan orang masih menggunakan metode konvensional. "Bersahabat, membantu, lalu diajak masuk Kristen. Itu cara yang sudah sangat kuno" ujarnya.

Fokus pada anak-anak

Ia dan rekan-rekannya kemudian mengembangkan sistem baru untuk menarik jamaah. Caranya adalah dengan 'masuk' ke alam pikiran orang yang bersangkutan, mengguncangkan keimanannya, dan mengajaknya kepada cahaya, agama baru yang dibawanya.
Secara khusus, Yudi mendalami dan mengembangkan teori untuk menarik remaja dan anak-anak berpindah keyakinan. Untuk anak SD, misalnya, ada metode yang disebutnya 'Buku Tanpa Kata'. Dalam buku itu, hanya ada lima warna yang menyimbolkan keyakinan. Sampai di satu titik, sang anak akan dibimbing pada satu warna yang merujuk pada agama yang ditawarkannya. Dan, hanya dalam waktu singkat, ia berhasil memurtadkan anak-anak itu. "Hanya dalam 1,5 jam saja, mereka sudah siap untuk meninggalkan agama lamanya", jelasnya.

Bersama komunitasnya, Yudi aktif mengembangkan metode-metode baru Kristenisasi. Motode ini lahir dari beragam praktik yang dilakukan di lapangan. "Secara berkala kami berkumpul untuk melakukan evaluasi". Demi mengemban misi 'menggarap' anak-anak pula, Yudi rela untuk menjadi pegawai negeri dan mengajar di sekolah dasar. "Sungguh, awalnya saya stres mengajar anak-anak. Biasanya saya mengajar mahasiswa dan para misionaris dewasa", tambahnya.

Namun, Yudi dinilai sukses mengemban misi itu. Anak-anak yang berhasil dimurtadkannya, disiapkan untuk menjadi misionaris kecil. Biasanya, begitu masuk kelas 4 SD, mereka diberi materi-materi dasar."Begitu mereka kelas 5 dan 6 SD, mereka mulai militan. Mereka sudah bisa menarik teman-teman sebayanya untuk pindah agama", jelasnya.

Ia saat itu meyakini, tugas menyebarkan agama bukan hanya tugas rohaniawan, tapi juga seluruh jamaah. "Jadi, yang awam pun harus dimobilisasi untuk menjadi penyebar agama", jelasnya. Dasar pemikirannya, kata Yudi, sederhana saja, yaitu bahwa seekor domba itu hanya akan lahir dari domba juga, bukan gajah atau yang lain. "Jadi, yang bisa mengajak seseorang kepada iman yang kami yakini saat itu, ya orang dari komunitas itu", katanya.

Maka, selain anak-anak SD, ia juga mengader tukang becak, buruh pabrik, hingga karyawan. "Merekalah yang nantinya akan menjadi penyeru di lingkungan mereka", tambahnya.Ia juga menemukan sendiri metode yang disebutnya 'aliran hidayah'. Intinya, setiap hari ia mewajibkan dirinya untuk bercerita tentang ajaran agamanya saat itu. Perkara orang yang diajak bercerita itu berpindah agama atau tidak, biarkan hidayah yang bicara. "Dalam satu hari, saya harus menyiarkan syalom minimal pada satu orang," ujarnya.

Setiap Muslim itu dai

Kini, setelah menjadi Muslim, metode yang ditemukannya itu pun digunakannya. Dalam sehari, minimal ia berdakwah pada satu orang. "Kata ajaran agama kita, sampaikan walau hanya satu ayat", ujarnya mengutip hadis Nabi SAW.Menurutnya, tak harus menjadi dai untuk bisa mendakwahkan Islam. Setiap Muslim, kata dia, bisa menjadi penyeru (dai). "Setiap Muslim adalah misionaris bagi agamanya", ujarnya.

Ia mengkritik lemahnya umat Islam dalam soal ini. Semestinya, setiap Muslim menjadi public relation bagi agamanya, karena sesungguhnya hanya Islam-lah agama yang konsep ketuhanannya bisa dipertanggungjawabkan, bahkan secara rasional. "Jangan hanya karena yang lain dan dengan alasan menegakkan toleransi, mereka justru mendangkalkan akidahnya sendiri", ujarnya. (sumber : mualaf.com)

Hidayah di waktu Fajar


Suara azan Subuh menyayat-nyayat hati Yudi Mulyana, pendeta yang juga staf pengajar agama Kristen di sebuah sekolah dasar di Cirebon, pagi itu. Jantungnya berdegup kencang. Ia limbung dan roboh. "Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya pagi itu," ujarnya sambil menceritakan kejadian di pengujung Agustus 2008. Padahal, ia memang terbiasa bangun pagi, berbarengan Subuh. Melakukan doa pagi dan membaca Alkitab adalah aktivitas rutinnya membuka hari.Namun pagi itu, ia seolah lumpuh. Meski panik, ia mencoba tenang. Yudi membuat banyak asumsi untuk menghibur diri. Namun, tak satu pun mampu menolongnya.

Hatinya menjadi tenang setelah membuka saluran televisi menyaksikan acara zikir yang dipimpin oleh Ustaz Arifin Ilham. Ia berkomat-kamit mengikuti zikir yang dibacakan jamaah Arifin di layar televisi. "Tuhan, apa yang terjadi dengan diri saya", tuturnya. Kalimat Thayyibah menenteramkannya hingga ia bisa bangkit dan kembali berjalan.


Yudi mencari permakluman bahwa fisiknya terlalu capek. Kuliah S-2 Teologi di sebuah perguruan tinggi di Bandung, sementara dia tinggal di Cirebon, menyita perhatian dan energinya. "Besok juga sembuh," pikirnya kala itu.

Namun, kendati fisiknya sudah segar, ia kembali mengalami peristiwa yang sama keesokan harinya. Bahkan, setiap kali mendengar suara azan, tubuhnya bergetar. Di waktu lain, hatinya gelisah setiap kali menyentuh Alkitab.Pada pekan yang sama, ia menemui Ustaz Nudzom, putra ketua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Cirebon. Ia menceritakan pengalamannya. Komentar Nudzom saat itu, "Anda mendapat hidayah". Mendengar jawaban itu, hati Yudi berontak. "Tuhan, saya tak ingin menjadi Muslim," ujarnya.

Bersyahadat

Pengalaman di ujung fajar itu selalu menghantui pikiran Yudi. Ia makin merasa tak nyaman berada di gereja. Anehnya, hatinya menjadi adem saat melintas di depan masjid atau secara diam-diam masuk ke area masjid.Puncaknya, tanggal 7 Agustus 2008 saat sedang mengajar, ia mendengar suara azan seolah berkumandang di telinganya. "Timbul keinginan yang kuat dari dalam diri saya untuk membaca syahadat", ujarnya.

Ia segera menemui Dra Hj Sri Hayatun, kepala sekolah tempatnya mengajar. Sri keheranan dengan sikap Yudi. Di Cirebon, ia dikenal sebagai guru dan pendeta militan. Sepak terjangnya selama ini membuat ratusan Muslim sukses dimurtadkan (keluar dari Islam).Dia kemudian diantar ke Kantor Departemen Agama Kota Cirebon. Bahkan, salah seorang pejabat di kantor itu menyarankannya untuk pulang dan berpikir sungguh-sungguh. "Berpindah keyakinan bukan perkara main-main", kata pejabat Depag tersebut sebagaimana ditirukan Yudi.

Namun, tekadnya sudah bulat. Bahkan, telepon mamanya yang meminta Yudi untuk mengurungkan niatnya, diabaikannya. "Meski saya menjadi Muslim, saya tetap akan menjadi anak mama", jelasnya kepada perempuan yang melahirkannya di ujung telepon.
Maka siang itu, dibimbing oleh KH Mahfud, ia bersyahadat. Dan, berita pendeta menjadi Muslim segera tersebar ke seantero kota. Saat pulang, ia menjumpai rumahnya sudah kosong. Istrinya yang mendengar kabar itu segera mengungsikan diri dan anak-anaknya ke Indramayu. Surat cerai dilayangkan dua bulan kemudian.

Lima hal 


"Saya melakukan pencarian teologis setelah saya bersyahadat", kata Yudi. Ia memulai dengan pertanyaan, Apakah ajaran semua agama sama? Kalau sama, harus jelas di mana persamaannya dan pasti. Kalau ada yang berbeda, juga harus jelas perbedaannya.
Dari hasil penelusurannya, sedikitnya Yudi menemukan ada lima persamaan ajaran agama-agama besar, yaitu harus menyembah Tuhan; mengenal konsep dosa; hidup adalah mencari jalan ke surga; harus berbuat baik; dan ada kehidupan setelah kematian. Setelah diteliti lagi, kata dia, ternyata hanya temanya saja yang sama, tetapi ajaran dan konsepnya berbeda.

"Saya mulai bertanya, jadi Tuhan itu satu atau banyak?" ujarnya. Maka, ia mempersempit persoalan, hanya tentang konsep keesaan Tuhan dan soal pengampunan dosa. Ajaran Islam dan Kristen tentang kedua hal itu pun dipersandingkan.Dalam Kristen, Adam dan Hawa yang terusir dari surga meninggalkan dosa warisan bagi anak cucunya. "Berarti proses pengampunan Tuhan tidak tuntas", ujarnya. Padahal, Tuhan tentulah bukan pendendam seperti sifat makhluk-Nya.

Dalam Islam, ia menemukan hal yang beda. Manusia terlahir dalam kondisi fitrah. Dia menjadi khalifah Tuhan di muka bumi dan menjadi rahmat bagi seluruh alam.Ia juga dibuat terkagum-kagum dengan asmaul husna . "Tuhan itu satu, tapi Dia mempunyai 99 nama yang melambangkan sifat-Nya", ujarnya.'Perilaku Tuhan' dalam Islam, kata dia, melambangkan nama-nama itu. "Kenapa Allah menghukum, karena dia mempunyai sifat Adil. Namun, Dia juga pemaaf Ghafurjuga rahman dan rahim", tambahnya.Ia makin yakin dengan pilihannya. "Hanya Islam yang konsep ketuhanannya bisa dipahami secara rasional", ujarnya.


Giat berdakwah

Kini, hari-hari Yudi Mulyana diwarnai dengan berbagai kesibukan dakwah. Dia memberi testimoni dalam dakwahnya ke berbagai kota di Indonesia. Saat Republika menemuinya di Jakarta, Yudi baru beberapa hari pulang umrah. Sebelumnya, ia selama seminggu berada di Provinsi Riau."Saya ingin menebus dosa-dosa saya telah memurtadkan sekian banyak orang dengan menjadi pendakwah". ujarnya. Ia menyebarkan pesan-pesan Islam kepada siapa saja yang ditemuinya. "Saya selalu bilang, Anda semua beruntung menjadi Muslim sejak awal. Islam itu agama agung yang ajarannya sangat masuk akal". Dia mencontohkan dirinya, yang harus kehilangan keluarga karena pilihannya menjadi Muslim. Bukan perkara mudah, karena selama lebih dari 10 tahun perkawinannya, tak pernah ada gejolak dalam rumah tangganya. "Kami keluarga yang hangat", ujarnya.

Yudi selalu berkaca-kaca kalau menceritakan anak-anaknya. Dia dan anak-anaknya kini dipisahkan. Meski kini dia telah memiliki keluarga baru. Ia menikah dengan seorang Muslimah asal Cirebon. Kerinduan pada buah hatinya tak pernah pupus. Ada satu mimpinya, Yudi ingin menjadi imam shalat bagi ketiga buah hatinya. ''Saya ingin sekali ketemu mereka dalam Islam", ujarnya terbata-bata.


Mengkristenkan Orang dalam 1,5 Jam

Yudi Mulyana termenung sejenak ketika ditanya orang Islam yang berhasil dimurtadkannya. "Sudah tak terhitung jumlahnya", jelasnya. Apalagi, mereka yang berhasil dimurtadkan itu biasanya juga aktif melakukan pemurtadan terhadap orang-orang yang ada di sekitarnya. Sebelum menempuh pendidikan S-2, aku Yudi, metode yang dikembangkan untuk memurtadkan orang masih menggunakan metode konvensional. "Bersahabat, membantu, lalu diajak masuk Kristen. Itu cara yang sudah sangat kuno" ujarnya.

Fokus pada anak-anak

Ia dan rekan-rekannya kemudian mengembangkan sistem baru untuk menarik jamaah. Caranya adalah dengan 'masuk' ke alam pikiran orang yang bersangkutan, mengguncangkan keimanannya, dan mengajaknya kepada cahaya, agama baru yang dibawanya.
Secara khusus, Yudi mendalami dan mengembangkan teori untuk menarik remaja dan anak-anak berpindah keyakinan. Untuk anak SD, misalnya, ada metode yang disebutnya 'Buku Tanpa Kata'. Dalam buku itu, hanya ada lima warna yang menyimbolkan keyakinan. Sampai di satu titik, sang anak akan dibimbing pada satu warna yang merujuk pada agama yang ditawarkannya. Dan, hanya dalam waktu singkat, ia berhasil memurtadkan anak-anak itu. "Hanya dalam 1,5 jam saja, mereka sudah siap untuk meninggalkan agama lamanya", jelasnya.

Bersama komunitasnya, Yudi aktif mengembangkan metode-metode baru Kristenisasi. Motode ini lahir dari beragam praktik yang dilakukan di lapangan. "Secara berkala kami berkumpul untuk melakukan evaluasi". Demi mengemban misi 'menggarap' anak-anak pula, Yudi rela untuk menjadi pegawai negeri dan mengajar di sekolah dasar. "Sungguh, awalnya saya stres mengajar anak-anak. Biasanya saya mengajar mahasiswa dan para misionaris dewasa", tambahnya.

Namun, Yudi dinilai sukses mengemban misi itu. Anak-anak yang berhasil dimurtadkannya, disiapkan untuk menjadi misionaris kecil. Biasanya, begitu masuk kelas 4 SD, mereka diberi materi-materi dasar."Begitu mereka kelas 5 dan 6 SD, mereka mulai militan. Mereka sudah bisa menarik teman-teman sebayanya untuk pindah agama", jelasnya.

Ia saat itu meyakini, tugas menyebarkan agama bukan hanya tugas rohaniawan, tapi juga seluruh jamaah. "Jadi, yang awam pun harus dimobilisasi untuk menjadi penyebar agama", jelasnya. Dasar pemikirannya, kata Yudi, sederhana saja, yaitu bahwa seekor domba itu hanya akan lahir dari domba juga, bukan gajah atau yang lain. "Jadi, yang bisa mengajak seseorang kepada iman yang kami yakini saat itu, ya orang dari komunitas itu", katanya.

Maka, selain anak-anak SD, ia juga mengader tukang becak, buruh pabrik, hingga karyawan. "Merekalah yang nantinya akan menjadi penyeru di lingkungan mereka", tambahnya.Ia juga menemukan sendiri metode yang disebutnya 'aliran hidayah'. Intinya, setiap hari ia mewajibkan dirinya untuk bercerita tentang ajaran agamanya saat itu. Perkara orang yang diajak bercerita itu berpindah agama atau tidak, biarkan hidayah yang bicara. "Dalam satu hari, saya harus menyiarkan syalom minimal pada satu orang," ujarnya.

Setiap Muslim itu dai

Kini, setelah menjadi Muslim, metode yang ditemukannya itu pun digunakannya. Dalam sehari, minimal ia berdakwah pada satu orang. "Kata ajaran agama kita, sampaikan walau hanya satu ayat", ujarnya mengutip hadis Nabi SAW.Menurutnya, tak harus menjadi dai untuk bisa mendakwahkan Islam. Setiap Muslim, kata dia, bisa menjadi penyeru (dai). "Setiap Muslim adalah misionaris bagi agamanya", ujarnya.

Ia mengkritik lemahnya umat Islam dalam soal ini. Semestinya, setiap Muslim menjadi public relation bagi agamanya, karena sesungguhnya hanya Islam-lah agama yang konsep ketuhanannya bisa dipertanggungjawabkan, bahkan secara rasional. "Jangan hanya karena yang lain dan dengan alasan menegakkan toleransi, mereka justru mendangkalkan akidahnya sendiri", ujarnya. (sumber : mualaf.com)

Senin, 23 November 2009

Clarence Jack Ellis: Ketika Sang Walikota AS Menemukan Islam


Oleh: Nidia Zuraya

Kebenaran harus ditegakkan, apa pun risikonya.

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, ''Tidak ada agama tanpa akal.'' Hadis ini secara tersirat menegaskan bahwa suatu agama, terlebih agama Islam, harus dipahami inti sari ajarannya dengan cara berpikir. Segala sesuatu yang ada di alam ini merupakan buah karya Allah SWT, sang pencipta alam semesta. Keberadaan alam ini pun adalah wujud dari keberadaan-Nya.

Tak salah bila kemudian banyak orang yang berusaha mempelajari agama dengan sungguh-sungguh karena mereka akan menemukan hakikat jati dirinya dan Tuhan sang Pencipta. Ini pulalah yang dialami dan dilakukan mantan wali kota Macon, sebuah negara bagian di Georgia, Amerika Serikat, Clarence Jack Ellis. Ia menemukan jati diri yang sesungguhnya setelah benar-benar mempelajari agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.


''Mengapa seseorang beragama Kristen? Itu karena Anda merasa melakukan sesuatu yang benar. Bagi saya, hal itu bukan persoalan besar. Namun, banyak orang yang ingin tahu apa yang Anda yakini. Bagi saya, Islam adalah agama yang cocok buat saya. Saya seperti kembali ke akar saya setelah bertahun-tahun melakukan perenungan,'' kata Ellis kepada surat kabar Boston Herald saat ditanya mengapa ia memilih pindah ke agama Islam, sebagaimana dikutip Islamonline .

Ellis mengatakan, ia mempelajari Alquran selama bertahun-tahun. Dan, ia menemukan tujuan hidupnya dalam Islam. Terlebih lagi setelah ia berkunjung ke Senegal. Menurut Ellis, nenek-nenek moyangnya sudah memeluk agama Islam sebelum mereka dibawa ke Amerika Utara sebagai budak.

Ellis mengaku jiwanya terasa tenteram dan damai setelah masuk Islam. Ia juga merasa tidak perlu menyembunyikan keislamannya dari publik yang telah memilihnya sebagai wali kota Macon walaupun keputusan memeluk Islam adalah keputusan yang sangat pribadi sifatnya.

Pria kelahiran Macon, 6 Januari 1946, ini masuk Islam pada Desember 2007 lalu. Sebagai seorang pejabat negara, keislaman Ellis mengundang perhatian publik Amerika. Namun demikian, ia sudah bulat pada keputusannya.

''Ini adalah keputusan yang sangat personal, tapi saya juga memahami bahwa saya seorang publik figur. Sebagai wali kota, saya pikir masyarakat berhak tahu apa yang saya yakini sebagai orang yang beriman. Iman yang saya yakini sekarang adalan Islam,'' jelas Ellis.

Ellis yang semula menganut agama Kristen hijrah menjadi seorang Muslim menjelang akhir kepemimpinannya. Ia mengucapkan dua kalimat syahadat dalam sebuah upacara kecil di Senegal, Afrika Barat. Setelah masuk Islam, Ellis mengurus status hukum perubahan namanya dari Clarence Jack Ellis menjadi Hakim Mansour Ellis. Ia tetap menggunakan nama keluarganya atas permintaan kedua putrinya.

Keislaman Ellis menghiasi berbagai media massa di AS dan sejumlah media internasional. Tak heran bila keputusannya itu menjadi buah bibir. Karena, sejak memutuskan masuk Islam, ia masih menjabat sebagai wali kota Macon.

Setelah menjadi seorang Muslim, ayah dari lima anak itu mulai membiasakan diri untuk menunaikan shalat lima waktu dan secara rutin berkunjung ke Islamic Center di Bloomfield Road. Ellis mengaku bangga dengan kebebasan beragama di AS. ''Kami meyakini Nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir, seperti kami meyakini Musa sebagai seorang nabi,'' ujar Ellis.

Karier
Peraih gelar sarjana muda di bidang sastra dari Saint Leo College di Florida, AS, ini menjabat sebagai wali kota Macon selama dua periode, sejak 14 Desember 1999 hingga Desember 2003. Kemudian, ia terpilih kembali dan menjabat hingga Desember 2007. Ia tidak bisa menjabat lagi sebagai wali kota karena sudah terpilih sebanyak dua kali masa jabatan yang lamanya empat tahun.

Ellis adalah warga kulit hitam pertama yang terpilih sebagai wali kota Macon sepanjang 176 tahun sejarah kota itu. Ia menjadi wali kota Macon ke-40 yang berhasil terpilih dua kali berturut-turut.

Selama menjabat sebagai wali kota Macon, Ellis dikenal sebagai sosok yang memberikan kontribusi besar bagi kemajuan kota itu. Ia menggunakan bantuan dari negara bagian dan Federal untuk membantu latihan kerja bagi anak-anak muda, membuat program pengarahan, penyuluhan, program usai sekolah, dan program untuk mengurangi jumlah kriminalitas di kota itu.

Dengan dana bantuan tersebut, ia juga mencanangkan program perumahan rakyat. Pada saat ia memerintah, telah dibangun lebih dari 200 unit rumah baru dengan harga terjangkau dan lebih dari 100 rumah susun di pusat kota Macon. Pada masa pemerintahannya, Macon ditetapkan sebagai kota unggulan oleh Asosiasi Kotamadya Georgia serta dianuegrahi The City Livability Award oleh Konferensi Wali Kota se-AS. Bahkan, mantan ibu negara Laura Bush menunjuk Macon sebagai cagar komunitas Amerika.

''Saya tetap berbagi dengan keluarga besar saya, komunitas Macon yang mendukung saya ketika saya masih menjadi seorang Kristiani dan masih memercayai saya hingga kini. Saya masih orang yang sama meski saya mengganti nama saya,'' tukas Ellis.

Sepanjang kariernya, sebagaimana tercatat dalam situs pribadinya, Macon tercatat pernah bertugas di dinas kemiliteran AS selama dua tahun dan ikut dikirim ke Perang Vietnam dalam Divisi ke-101 Angkatan Udara AS dengan pangkat sersan.

Atas jasa-jasanya di kemiliteran, Ellis mendapatkan sejumlah penghargaan, antara lain tiga penghargaan Bronze Star , medali Army Commendation for Valor and Heroism , serta penghargaan Purple Heart karena luka-luka yang dialaminya dalam perang Vietnam. ed: sya

Jadi Duta Kehormatan Uganda

Kiprah Clarence Jack Ellis saat menjabat sebagai wali kota tidak hanya sebatas urusan yang terkait dengan kota yang dipimpinnya, tetapi juga sampai ke tataran internasional. Saat memerintah, Ellis membina hubungan dengan beberapa kota internasional di Rusia, Afrika, dan Korea. Hubungan yang dibina antara Macon dan kota-kota dunia tersebut mengarah kepada bentuk kerja sama sister city . Dengan mengatasnamakan Konferensi Wali Kota se-AS, Konferensi Nasional Wali Kota Kulit Hitam, dan Konferensi Wali Kota sedunia, Ellis memimpin beberapa delegasi ke sejumlah negara Afrika, termasuk Ethiopia, Afrika Selatan, Ghana, Senegal, Uganda, dan Kamerun.

Lawatan-lawatan yang kerap ia lakukan ke sejumlah negara Afrika ini ternyata menarik perhatian Pemerintah Uganda. Karena itu, tak mengherankan jika ia kemudian diangkat menjadi duta kehormatan bagi Uganda pada April 2007 lalu. Posisi sebagai duta kehormatan ini akan dijalankannya setelah masa jabatannya sebagai wali kota Macon berakhir.

Ellis berharap bisa menggunakan posisi kehormatan itu untuk mempromosikan Uganda di wilayah tenggara Amerika Serikat. Seorang duta kehormatan biasanya mengemban tugas untuk membantu warga negara dari negara yang mereka wakili dalam menyelesaikan semua bentuk persoalan yang dihadapi mereka di negara di mana mereka tinggal.

Dukung Hugo Chavez
Pada saat masih menjabat, Ellis juga pernah mendapat sorotan tajam publik Amerika menyusul sikapnya yang dengan terang-terangan mendukung pemerintahan Presiden Venezuela Hugo Chavez. Atas sikapnya ini, Ellis tidak hanya didemo oleh warga kota Macon, tetapi juga mendapat kecaman dari para pemimpin lokal lainnya di Negeri Paman Sam.

Mantan calon wali kota saat itu, David Corr, mengatakan, pernyataan wali kota merupakan sebuah bentuk kemarahan. ''Kita harus mengutuk Chavez sebagai musuh kebebasan.''

Sementara itu, seorang anggota senat Partai Republik dari wilayah pemilihan Macon, Allen Peake, menilai bahwa tindakan yang dilakukan Ellis sebagai tindakan yang mencemarkan nama kota Macon. ''Saya pikir, itu negatif bagi kami,'' ujarnya kepada The Macon Telegraph . ''Kita perlu melakukan hal-hal yang bisa mengembalikan citra positif Macon,'' tambahnya.

Peristiwa tersebut terjadi pada pertengahan Agustus 2007 silam. Sebagaimana pemberitaan yang dilansir situs foxnews , wali kota Jack Ellis telah mengirimkan surat dukungan yang disampaikan melalui kurir kepada Presiden Chavez. Dalam suratnya, Ellis menuliskan pesan bahwa para pemimpin lokal di AS dapat berdiri bersama-sama pemimpin Venezuela meskipun perbedaan pendapat terjadi di tingkat pemerintah pusat.

Ia tak peduli tudingan miring yang ditujukan padanya. Baginya, sebuah kebenaran harus ditegakkan, apa pun risikonya. nidia ed: sya

Sumber: http://www.republika.co.id/koran/0/90931/Clarence_Jack_Ellis_Ketika_Sang_Wali_Kota_AS_Menemukan_Islam

Clarence Jack Ellis: Ketika Sang Walikota AS Menemukan Islam


Oleh: Nidia Zuraya

Kebenaran harus ditegakkan, apa pun risikonya.

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, ''Tidak ada agama tanpa akal.'' Hadis ini secara tersirat menegaskan bahwa suatu agama, terlebih agama Islam, harus dipahami inti sari ajarannya dengan cara berpikir. Segala sesuatu yang ada di alam ini merupakan buah karya Allah SWT, sang pencipta alam semesta. Keberadaan alam ini pun adalah wujud dari keberadaan-Nya.

Tak salah bila kemudian banyak orang yang berusaha mempelajari agama dengan sungguh-sungguh karena mereka akan menemukan hakikat jati dirinya dan Tuhan sang Pencipta. Ini pulalah yang dialami dan dilakukan mantan wali kota Macon, sebuah negara bagian di Georgia, Amerika Serikat, Clarence Jack Ellis. Ia menemukan jati diri yang sesungguhnya setelah benar-benar mempelajari agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.


''Mengapa seseorang beragama Kristen? Itu karena Anda merasa melakukan sesuatu yang benar. Bagi saya, hal itu bukan persoalan besar. Namun, banyak orang yang ingin tahu apa yang Anda yakini. Bagi saya, Islam adalah agama yang cocok buat saya. Saya seperti kembali ke akar saya setelah bertahun-tahun melakukan perenungan,'' kata Ellis kepada surat kabar Boston Herald saat ditanya mengapa ia memilih pindah ke agama Islam, sebagaimana dikutip Islamonline .

Ellis mengatakan, ia mempelajari Alquran selama bertahun-tahun. Dan, ia menemukan tujuan hidupnya dalam Islam. Terlebih lagi setelah ia berkunjung ke Senegal. Menurut Ellis, nenek-nenek moyangnya sudah memeluk agama Islam sebelum mereka dibawa ke Amerika Utara sebagai budak.

Ellis mengaku jiwanya terasa tenteram dan damai setelah masuk Islam. Ia juga merasa tidak perlu menyembunyikan keislamannya dari publik yang telah memilihnya sebagai wali kota Macon walaupun keputusan memeluk Islam adalah keputusan yang sangat pribadi sifatnya.

Pria kelahiran Macon, 6 Januari 1946, ini masuk Islam pada Desember 2007 lalu. Sebagai seorang pejabat negara, keislaman Ellis mengundang perhatian publik Amerika. Namun demikian, ia sudah bulat pada keputusannya.

''Ini adalah keputusan yang sangat personal, tapi saya juga memahami bahwa saya seorang publik figur. Sebagai wali kota, saya pikir masyarakat berhak tahu apa yang saya yakini sebagai orang yang beriman. Iman yang saya yakini sekarang adalan Islam,'' jelas Ellis.

Ellis yang semula menganut agama Kristen hijrah menjadi seorang Muslim menjelang akhir kepemimpinannya. Ia mengucapkan dua kalimat syahadat dalam sebuah upacara kecil di Senegal, Afrika Barat. Setelah masuk Islam, Ellis mengurus status hukum perubahan namanya dari Clarence Jack Ellis menjadi Hakim Mansour Ellis. Ia tetap menggunakan nama keluarganya atas permintaan kedua putrinya.

Keislaman Ellis menghiasi berbagai media massa di AS dan sejumlah media internasional. Tak heran bila keputusannya itu menjadi buah bibir. Karena, sejak memutuskan masuk Islam, ia masih menjabat sebagai wali kota Macon.

Setelah menjadi seorang Muslim, ayah dari lima anak itu mulai membiasakan diri untuk menunaikan shalat lima waktu dan secara rutin berkunjung ke Islamic Center di Bloomfield Road. Ellis mengaku bangga dengan kebebasan beragama di AS. ''Kami meyakini Nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir, seperti kami meyakini Musa sebagai seorang nabi,'' ujar Ellis.

Karier
Peraih gelar sarjana muda di bidang sastra dari Saint Leo College di Florida, AS, ini menjabat sebagai wali kota Macon selama dua periode, sejak 14 Desember 1999 hingga Desember 2003. Kemudian, ia terpilih kembali dan menjabat hingga Desember 2007. Ia tidak bisa menjabat lagi sebagai wali kota karena sudah terpilih sebanyak dua kali masa jabatan yang lamanya empat tahun.

Ellis adalah warga kulit hitam pertama yang terpilih sebagai wali kota Macon sepanjang 176 tahun sejarah kota itu. Ia menjadi wali kota Macon ke-40 yang berhasil terpilih dua kali berturut-turut.

Selama menjabat sebagai wali kota Macon, Ellis dikenal sebagai sosok yang memberikan kontribusi besar bagi kemajuan kota itu. Ia menggunakan bantuan dari negara bagian dan Federal untuk membantu latihan kerja bagi anak-anak muda, membuat program pengarahan, penyuluhan, program usai sekolah, dan program untuk mengurangi jumlah kriminalitas di kota itu.

Dengan dana bantuan tersebut, ia juga mencanangkan program perumahan rakyat. Pada saat ia memerintah, telah dibangun lebih dari 200 unit rumah baru dengan harga terjangkau dan lebih dari 100 rumah susun di pusat kota Macon. Pada masa pemerintahannya, Macon ditetapkan sebagai kota unggulan oleh Asosiasi Kotamadya Georgia serta dianuegrahi The City Livability Award oleh Konferensi Wali Kota se-AS. Bahkan, mantan ibu negara Laura Bush menunjuk Macon sebagai cagar komunitas Amerika.

''Saya tetap berbagi dengan keluarga besar saya, komunitas Macon yang mendukung saya ketika saya masih menjadi seorang Kristiani dan masih memercayai saya hingga kini. Saya masih orang yang sama meski saya mengganti nama saya,'' tukas Ellis.

Sepanjang kariernya, sebagaimana tercatat dalam situs pribadinya, Macon tercatat pernah bertugas di dinas kemiliteran AS selama dua tahun dan ikut dikirim ke Perang Vietnam dalam Divisi ke-101 Angkatan Udara AS dengan pangkat sersan.

Atas jasa-jasanya di kemiliteran, Ellis mendapatkan sejumlah penghargaan, antara lain tiga penghargaan Bronze Star , medali Army Commendation for Valor and Heroism , serta penghargaan Purple Heart karena luka-luka yang dialaminya dalam perang Vietnam. ed: sya

Jadi Duta Kehormatan Uganda

Kiprah Clarence Jack Ellis saat menjabat sebagai wali kota tidak hanya sebatas urusan yang terkait dengan kota yang dipimpinnya, tetapi juga sampai ke tataran internasional. Saat memerintah, Ellis membina hubungan dengan beberapa kota internasional di Rusia, Afrika, dan Korea. Hubungan yang dibina antara Macon dan kota-kota dunia tersebut mengarah kepada bentuk kerja sama sister city . Dengan mengatasnamakan Konferensi Wali Kota se-AS, Konferensi Nasional Wali Kota Kulit Hitam, dan Konferensi Wali Kota sedunia, Ellis memimpin beberapa delegasi ke sejumlah negara Afrika, termasuk Ethiopia, Afrika Selatan, Ghana, Senegal, Uganda, dan Kamerun.

Lawatan-lawatan yang kerap ia lakukan ke sejumlah negara Afrika ini ternyata menarik perhatian Pemerintah Uganda. Karena itu, tak mengherankan jika ia kemudian diangkat menjadi duta kehormatan bagi Uganda pada April 2007 lalu. Posisi sebagai duta kehormatan ini akan dijalankannya setelah masa jabatannya sebagai wali kota Macon berakhir.

Ellis berharap bisa menggunakan posisi kehormatan itu untuk mempromosikan Uganda di wilayah tenggara Amerika Serikat. Seorang duta kehormatan biasanya mengemban tugas untuk membantu warga negara dari negara yang mereka wakili dalam menyelesaikan semua bentuk persoalan yang dihadapi mereka di negara di mana mereka tinggal.

Dukung Hugo Chavez
Pada saat masih menjabat, Ellis juga pernah mendapat sorotan tajam publik Amerika menyusul sikapnya yang dengan terang-terangan mendukung pemerintahan Presiden Venezuela Hugo Chavez. Atas sikapnya ini, Ellis tidak hanya didemo oleh warga kota Macon, tetapi juga mendapat kecaman dari para pemimpin lokal lainnya di Negeri Paman Sam.

Mantan calon wali kota saat itu, David Corr, mengatakan, pernyataan wali kota merupakan sebuah bentuk kemarahan. ''Kita harus mengutuk Chavez sebagai musuh kebebasan.''

Sementara itu, seorang anggota senat Partai Republik dari wilayah pemilihan Macon, Allen Peake, menilai bahwa tindakan yang dilakukan Ellis sebagai tindakan yang mencemarkan nama kota Macon. ''Saya pikir, itu negatif bagi kami,'' ujarnya kepada The Macon Telegraph . ''Kita perlu melakukan hal-hal yang bisa mengembalikan citra positif Macon,'' tambahnya.

Peristiwa tersebut terjadi pada pertengahan Agustus 2007 silam. Sebagaimana pemberitaan yang dilansir situs foxnews , wali kota Jack Ellis telah mengirimkan surat dukungan yang disampaikan melalui kurir kepada Presiden Chavez. Dalam suratnya, Ellis menuliskan pesan bahwa para pemimpin lokal di AS dapat berdiri bersama-sama pemimpin Venezuela meskipun perbedaan pendapat terjadi di tingkat pemerintah pusat.

Ia tak peduli tudingan miring yang ditujukan padanya. Baginya, sebuah kebenaran harus ditegakkan, apa pun risikonya. nidia ed: sya

Sumber: http://www.republika.co.id/koran/0/90931/Clarence_Jack_Ellis_Ketika_Sang_Wali_Kota_AS_Menemukan_Islam